Indramayu PostPing Net
Tampilkan postingan dengan label Berita TKI Indramayu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita TKI Indramayu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Januari 2011

Kepulangan TKI Indramayu Dari Tunisia Disambut Isak Tangis



Justify FullIndramayu - Kedatangan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Indramayu yang sempat terjebak dalam konflik di Tunisia disambut isak tangis keluarga. Keberangkatan mereka ke Tunisia tidak melalui jalur keberangkatan resmi.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun para TKI tersebut tiba di kantor Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) kabupaten Indramayu pada Jumat (28/1) sekitar pukul 01.30 WIB. Kedatangan mereka disambut tangis bahagia masing-masing keluarga yang telah lama menunggu kedatangan mereka.

Seorang TKI asal Kecamatan Kertasmaya, Juju Juhariah,33, menjelaskan jika ia bekerja di istana kepresidenan saat konflik melanda Tunisia.

"Waktu konflik, benar-benar mengerikan. Istana sempat diserang dan dijarah oleh warga," kata Juju. Ia bisa selamat karena dijemput dan diselamatkan petugas KBRI di Tunisia.

Hal yang sama pun diungkapkan TKI asal Desa Tenajar Kidul, Kecamatan Kertasmaya, Wajem,35. "Saya bekerja di rumah Samira Maherji, adik presiden Tunisia," katanya.

Saat konflik terjadi, majikannya justru kabur tanpa membawa serta dirinya. Padahal rumah majikannya saat itu dijadikan sasaran

pembakaran oleh massa.

"Beruntung saya berhasil kabur lalu ditampung di KBRI," katanya.

Baik Juju maupun Wajem mengaku mereka berangkat ke Tunisia tidak melalui prosedur resmi. ?Kami berangkat melalui calo biro perjalanan, jadi dinyatakan illegal oleh pemerintah," kata Wajem.

Ada pun TKI asal Kabupaten Indramayu yang bekerja di Tunisia terdiri dari 23 wanita dan dua pria. Mereka dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga di istana Presiden Zine el Abidine Ben Ali dan keluarganya. Namun mereka hanya memperoleh gaji Rp 2,4 juta setiap bulannya tanpa jaminan kesehatan.

Kepala Dinsosnakertrans Kabupaten Indramayu, Kamud, sendiri berharap agar peristiwa ini bisa menjadi pelajaran bagi calon TKI saat akan berangkat ke luar negeri.

"Calon TKI diharapkan tidak terjebak buju rayu calo yang tidak jelas," katanya.Kamud meminta agar calon TKI memakai prosedur resmi

saat akan bekerja diluar negeri sehingga hak-haknya bisa dilindungi secara resmi. (sumber)

25 TKI Asal Indramayu Dipulangkan dari Tunisia



Indramayu - Konflik yang terjadi di Tunisia membuat para tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Indramayu, terlantar. Beruntung, mereka berhasil diselamatkan hingga akhirnya dipulangkan ke Tanah Air.

Setelah sampai di Tanah Air, mereka kemudian diserahterimakan dari Wakil Menlu RI, Triyono Wibowo, kepada Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Indramayu, Kamud, Kamis (27/1) sekitar pukul 19.00 WIB. Para TKI itupun langsung dibawa ke Indramayu dan tiba di kantor Dinsosnakertrans Kabupaten Indramayu pada Jumat (28/1) sekitar pukul 01.30 WIB.

Kedatangan para TKI itu disambut penuh haru oleh sanak keluarga masing-masing yang telah lama menunggu. Mereka pun mengaku sangat bersyukur bisa pulang dengan selamat. Apalagi, seluruh TKI itu selama ini bekerja sebagai pembantu rumah tangga di istana kepresidenan maupun rumah kerabat presiden yang menjadi sasaran amuk massa di Tunisia. (sumber)

Kisah TKI Indramayu di Rumah Ipar Presiden Tunisia



Indramayu - Situasi di Tunisia dalam beberapa pekan terakhir membuat para tenaga kerja asal Indonesia (TKI) kena getahnya. Mereka yang bekerja di rumah keluarga maupun kerabat Presiden Tunisia, Zine El Abidine Ben Ali, mengaku sempat terperangkap di rumah majikannya karena situasi memanas di luar.

Tenaga Kerja Wanita asal Indramayu, Widaningsih, 24, mengatakan bahwa rumah majikannya, yang merupakan kakak ipar Ben Ali bernama Jalila Trabelsi, dikepung oleh ratusan orang pendemo. Widaningsih bersembunyi di loteng dan mengaku sangat ketakutan karena massa yang marah mulai memasuki rumah.

“Saat itu, rumah majikan saya sudah hancur dan barang-barang sudah ludes dijarah. Saya sangat ketakutan,” ujar Widaningsih saat bersaksi di Kementrian Luar Negeri Indonesia di Jakarta. Bersama 31 orang lainnya, Widianingsih berhasil dievakuasi dari Tunisia.

Widaningsih mengatakan bahwa saat itu majikannya sudah kabur entah kemana, meninggalkan dia bersama para tenaga kerja lainnya yang berasal dari berbagai negara. Dia mengaku tidak tahu menahu apa yang dilakukan oleh majikannya sehingga rumahnya dihancurkan sedemikian rupa.

“Lalu orang-orang naik ke atas, saya sangat ketakutan, takut diapa-apakan,” lanjut perempuan asal Kota Indramayu itu.

Beruntung, beberapa mahasiswa menolong Widaningsih dan menenangkannya. “Mereka mengatakan untuk tidak takut, karena saya tidak ada hubungannya dengan hal ini,” ujar Widaningsih. Kemudian dia menelepon Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tunis untuk minta dijemput.

Situasi yang sama dialami oleh Sriyati, 31, yang bekerja di rumah keluarga menantu Ben Ali, Mohamed Sakhr El-Matri, yang . Mereka sempat terperangkap selama beberapa hari di lingkungan istana kepresidenan dengan penjagaan ketat militer.

“Kami tidak bisa keluar, militer berjaga di semua tempat, sampai ke atap-atap,” ujar Sriyati.

Militer tidak memperbolehkan semua orang keluar dari rumah tersebut dengan alasan keamanan. Sriyati kemudian menelepon pihak KBRI di Tunis untuk menjemputnya ke istana. Namun, ujarnya, militer bertindak sangat agresif dan mengusir staf KBRI yang datang untuk menjemput mereka.

“Bahkan militer menembak ban mobil staf KBRI,” kata Sriyati.

Setelah beberapa lama, barulah dia diperbolehkan untuk keluar oleh militer dan ditampung di KBRI, lalu dipulangkan ke tanah air.

Ketiga orang ini, seperti semua WNI yang dipulangkan ke tanah air, adalah para pekerja ilegal yang tidak memiliki surat izin kerja dan izin tinggal, serta tanpa dilindungi kontrak kerja yang jelas. Dipekerjakannya mereka di lingkungan kepresidenan dikarenakan calo atau sponsor yang menyalurkannya mempunyai hubungan dengan keluarga presiden.

“Kami diberi kemudahan karena akan bekerja pada keluarga presiden,” ujar Widaningsih yang mengaku dibawa dari Dubai menuju Tunisia oleh seorang calo yang dekat dengan keluarga Presiden. "Kapok, saya tidak akan kembali kerja di luar negeri," ujar Widaningsih. (sumber)

Minggu, 08 Agustus 2010

Di Irak, TKW Indramayu Disandera Tujuh Tahun



Indramayu - Seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Indramayu diduga telah disekap oleh majikannya. Sugiarti, 29 tahun, warga warga Blok Karang Baru RT 09 RW 03, Desa Sanjaya, Kecamatan Indramayu itu selama empat tahun tak diketahui kabar beritanya oleh keluarga.Warni, 60 tahun, ibu kandung Sugiarti mengatakan anak pertamanya itu berangkat pada 10 Januari 2003 lalu. "Ia berangkat melalui perantara PT Alfindo Mas Buana, Jakarta dengan tujuan ke Yordania," katanya.

Namun ternyata Sugiarti dipekerjakan di Irak pada keluarga Ahmad Abdul Ganawi. "Selama dua tahun ia masih mengirimkan kabar dan uang kepada kami," kata Warni. Uang yang dikirimkan dalam rentang waktu tersebut sebesar Rp 7,5 juta.

Memasuki tahun ketiga hingga ketujuh ini, Sugiarti sudah sama sekali tidak pernah menghubungi keluarga lagi. "Bahkan uang pun sudah tidak dikirimkan lagi," katanya. Khawatir dengan kondisi anaknya, Warni pun berusaha untuk meminta bantuan Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Indramayu. Tapi tidak berhasil, bahkan dokumen milik anaknya yang diserahkan ke petugas justru hilang.

Warni pun kemudian meminta bantuan PT Alfindo Mas Buana yang membuka cabang di Kabupaten Indramayu. "Sama saja, perusahaan juga tidak mau bertanggungjawab," kata Warni. Ia bahkan sampai harus menjual tanah dan rumahnya untuk mengetahui keberadaan anaknya.

Ketua Pengurus Daerah Serikat Pekerja TKI Luar Negeri (SPTKILN) Kabupaten Indramayu, Edi Rustam, menjelaskan mereka telah berhasil melacak keberadaan Sugiarti melalui bantuan kepolisian Arab Saudi. "Bahkan kami sudah berhasil menghubungi Sugiarti pada Maret 2010," katanya.

Saat berkomunikasi itulah diketahui Sugiarti minta dipulangkan karena tidak tahan dikurung majikannya selama tujuh tahun. Dijelaskan Edi, Sugiarti telah menjadi korban penyelundupan buruh migran gelap. "Karena seharusnya ia bekerja di Yordania, tapi malah diselundupkan ke Irak," katanya.

Saat ini Edi mengungkapkan tengah mengupayakan pemulangan Sugiarti melalui perantara KBRI di Yordania. "Jika berhasil, Sugiarti akan langsung dipulangkan kepada keluarganya," katanya. (sumber)

Aksi Damai untuk TKW Asal Indramayu di Kedubes Kuwait



Jakarta - Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Indramayu, Jawa Barat, Sariah, tewas akibat dianiaya majikannya di Kuwait. Untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah Kuwait, sebuah aksi teatrikal akan dilakukan di depan Kedubes Kuwait di Jakarta.

"Sampai hari ini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Kuwait, meskipun hasil otopsi dari RSCM menyatakan bahwa Sariah dipastikan meninggal akibat kekerasan fisik dan seksual," kata Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah dalam rilis yang diterima detikcom, Senin (2/8/2010).

Menyikapi hal tersebut, Migrant Care, keluarga Sariah, mantan-mantan PRT migran, dan beberapa kelompok masyarakatn akan melakukan aksi protes di depan Kedutaan Besar Kuwait di Jakarta.

"Agar pemerintah Kuwait serius dan bertanggung jawab penuh atas meninggalnya Sariah akibat kebrutalan majikannya yang senatiasa melakukan kekerasan fisik dan seksual selama dia bekerja," imbuh Anis.

Aksi akan berlangsung di Kedubes Kuwait di Kuningan Barat, Jakarta Selatan mulai pukul 10.00-11.00 WIB.

Sariah diketahui tewas di Kuwait tanggal 7 Juli lampau. Jenazahnya sampai di Jakarta 2 pekan kemudian. Sesampainya di jakarta, keluarga mengotopsi jenazah Sariah. Kemudian langsung dikuburkan di desanya, desa Tersana, RT 8/2, Sukagumiwang, Indramayu.

Sariah berangkat ke Kuwait sejak 2008. Kepergiaanya merupakan kali kelima berangkat sebagai TKW. Ia sempat bekerja di Arab Saudi dan Yordania. Perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga itu meninggalkan satu suami dan seorang anak. (sumber)

TKW Korban Penyiksaan Akhirnya Meninggal Dunia



Indramayu - Setelah mendapat perawatan intensif selama lima hari di Rumah Sakit Umum Daerah Indramayu, Eti Darti, tenaga kerja wanita asal Kabupaten Indramayu Jawa Barat, akhirnya meninggal dunia.

Eti Darti, tkw asal Blok Liberty, Kelurahan Paoman, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat meninggal dunia akibat mengalami infeksi pada bagian perut. Diduga kuat, infeksi tersebut telah menjalar ke organ tubuh lainnya.

Saat bekerja di Johor Malaysia, korban mendapat siksaan dan tindakan perkosaan oleh majikannya. Bahkan majikannya sempat berupaya menghilangkan jejak, dengan membuang Eti ke Medan melalui jalur laut.

Untuk mengurangi beban hutang akibat biaya perawatan di rumah sakit, pihak keluarga dibantu sejumlah mahasiswa di Indramayu melakukan aksi galang dana untuk Eti Darti. (sumber)

TKW Korban Pemerkosaan Butuh Bantuan Dermawan



Indramayu - Forkabumi (Front Rakyat Untuk Keadilan Buruh Migran) Kabupaten Indramayu, Rabu (28/7) siang menggalang dana untuk membantu TKW Indramayu yang jadi korban eksploitasi seks dan penyiksaan majikan.

Anggota Forkabumi disebar ke beberapa titik di jalan raya yang padat kendaraan. Mereka mencari donator khususnya pengguna jalan, guna meringankan beban TKW yang bernasib kurang mujur seperti Et, 24 warga Kelurahan Paoman, Kecamatan/Kabupaten Indramayu.

Seperti diberitakan Pos Kota, Rabu (28/7), Et kini sakit-sakitan bahkan lumpuh terbaring di RSUD Indramayu. PRT itu diduga disiksa berat dan korban budak seks, saat bekerja di rumah majikan di Johor, Malaysia.

Koordinator Forkabumi, Bistok dijumpai Rabu (28/7) mengemukakan, walaupun penggalangan dana ini hasilnya mungkin tak seberapa, namun teman-teman di Forkabumi sudah berbuat yang terbaik. Ini bentuk partisipasi meringankan penderitaan korban dan keluarganya.

Aksi penggalangan dana itu kata dia dilakukan karena maraknya TKW Indramayu yang jadi korban pelecehan seksual dan penganiayaan. Tak hanya Et ternyata Juriah, 30 warga Blok Kandang Macan Desa Rambatan Kulon Kecamatan Lohbener juga jadi korban penganiayaan hingga meninggal dunia saat kerja di Arab Saudi.

Korban berikutnya, Sariah, 39 TKW Indramayu yang bekerja di Kuwait, ia tewas setelah diperlakukan kasar majikan hingga sakit-sakitan dan meninggal dunia.

Bistok berharap donatur tergugah hatinya menyumbangkan harta meringankan beban korban dan keluarga TKW yang mengalami penyiksaan fisik dan psikis juga pelecehan seksual di luar negeri, katanya. (sumber)

TKW Asal Indramayu Lumpuh Diperkosa Majikan



Indramayu - Seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Blok Liberti, Kel. Paoman, Kec./Kab. Indramayu limpuh. Kelumpuhan Eti (25) yang menjadi pembantu rumah tangga (PRT) di Malaysia diduga akibat kelakuan majikannya yang telah memperkosa dan menyiksanya. Akhirnya oleh keluarga korban dibantu KBRI di Malaysia dan Pengurus Daerah Serikat Pekerja TKI Luar Negri (SPTKILN) Kab. Indramayu, korban dijemput untuk dibawa pulang. Namun karena kondisinya, kini Eti mendapat perawatan intensif di ruang VIP kamar 3 RSUD Indramayu, Senin (26/7).

Dari keterangan yang diperoleh menyebutkan, Eti yang berangkat menjadi TKW melalui jasa pengerah tenaga kerja PT. Akbar Iksan Prima yang beralamat di Jakarta Utara pada tahun 2006. Beberapa hari kemudian, ia baru mendapat pekerjaan sebagai PRT di Malaysia. Karena tidak tahan pada majikan pertama lantas ia mengadukan nasibnya ke agen penyalur tenaga kerja di negara tersebut. Kemudian bekerja kembali pada keluarga dr.Daya Sandra di daerah Johor.

Selama satu bulan bekerja, iapun memberitahukan keadaannya pada kelauarganya. Bahkan penghasilannya pun sempat ia kirimkan. Namun menginjak bulan berikutnya ia selalu saja mendapat perlakuan yang tidak senonoh berupa perkosaan dan penganiayaan yang dilakukan oleh majikannya. Naasnya, perbuatan majikannya itu menghasilkan buah, Korban hamil.

Mengetahui hamil, majikan korban terkejut dan menyuruh korban untuk menggugurkan kandungannya. Sadisnya, proses pengguran kandungan itu dengan cara perut korban ditendang-tendang. Hingga korban mengalami pendarahan. Setelah sembuh, korbanpun masih dipaksa untuk melayani nafsu setannya. Hingga mengalami kelumpuhan akibat penyiksaan jika korban menolak.

Orang tua korban Wakid (46) yang mendapatkan kabar lantas menghubungi ketua SPTKILN, Edi Rustam hingga korban dapat dipulangkan. "Kami memperoleh kabar itu dari keluarga korban. Bahkan korban mengaku selama bekerja di tempat majikannya yang seorang dokter setiap harinya selalu mendapat penyiksaan dan perkosaan. Atas perbuatan ini kami akan mengadukan peristiwanya kepada instansi yang berwenang untuk mengusut kasus tersebut," kata Edi Rustam. (sumber)

TKW Indramayu Meninggal karena Disiksa Majikan



Indramayu - Kembali tenaga kerja Indonesia di Kuwait menjadi korban kekerasan majikan. Kekerasan yang terjadi pada Sariah, 37, asal Indramayu, Jabar, menyebabkannya meninggal.

Sariah meninggal pada 7 Juli lalu dan jenazahnya tiba di Indonesia, Rabu (21/7) malam dan langsung divisum di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.

Setelah dilakukan pemeriksaan forensik oleh pihak RSCM, ahli forensik RSCM membantah keterangan penyebab kematian Sariah dari Rumah Sakit Al Adaan di Kuwait.

"Ada luka memar karena benda tumpul di beberapa titik. Paling parah di bagian leher kanan, tengkuk belakang, dan ada pengentalan darah di batang otak. Yang di otak yang menjadi penyebab meninggalnya," papar ahli forensil RSCM Munim Idris dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (22/7).

Menurut Direktur Migrant Care Anis Hidayah, TKI dari penyalur PT Zam-Zam Perwita tersebut sebelumnya sempat dirawat di Rumah Sakit Al Adaan di Kuwait. Sepekan lebih korban dirawat dalam keadaan tidak sadar. Akhirnya pada minggu pertama bulan Juli Sariah menghembuskan nafasnya di Kuwait.

"Almarhumah pernah dirawat di Rumah Sakit Al Adaan di Kuwait selama 8 hari dalam keadaan koma. Akhirnya dia (Sariah) meninggal tanggal 7 Juli kemarin," jelas Anis kepada wartawan.

Kematian Sariah disebutkan oleh pihak rumah sakit di Kuwait itu disebabkan berhentinya fungsi jantung. "Pihak sana bilang karena otot-otot jantungnya berhenti mendadak dan pembuluh darahnya pecah," paparnya.

Kematian Sariah diketahui pihak keluarga bukan dari rumah sakit langsung melainkan dari teman sesama TKI di Kuwait. Dari temannya tersebut diketahui juga bahwa korban mendapatkan kekerasan dari majikan. Informasi tersebut kemudian dilaporkan pihak keluarga kepada LSM Migrant Care.

"Keluarga tahunya dari teman Sariah yang pernah satu majikan. Dari temannya juga kita tahu Sariah pernah dipukul dan disekap di gudang, dan pernah tidak dikasih makan sampai 4 hari," jelasnya.

Selama ini Sariah tidak pernah terbuka hengenai keadaannya kepada keluarga. Dari hasil kerjanya di Kuwait selama tujuh bulan tidak dikirimnya tiap bulan. "Terakhir komunikasi bulan lalu, tapi tidak banyak cerita. Sudah dua kali ngirim uang," kata anak Sariah, Agus.

Selain jenazah Sariah, jenazah TKI di Riyadh, Nurhayati, juga tiba di Jakarta Rtabu malam. Namun atas permintaan keluarga, jenazah tidak diizinkan untuk diotopsi.

Lagi, TKW Asal Indramayu Tewas Diduga Disiksa Majikan



Indramayu - Seorang tenaga kerja wanita (TKW) Juriyah (19), warga Blok Kandang Macan, RT.12/ RW. 03, Desa Rambatan Kulon, Kec. Lohbener, Kab. Indramayu tewas. Kematian korban sampai kini belum diketahui penyebab pastinya. Namun diduga kuat karena penyiksaan yang dilakukan oleh majikannya. Jenasah korban yang dipulangkan disambut isak tangis keluarga dan kerabat korban, Kamis (15/7) sore.

Keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan, korban yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) pada majikan Zaj'ah Faza'a Al-Samri di kota Jedah, Saudi Arabia selama 11 bulan. Namun menginjak bulan berikutnya korban meninggal dunia. Bahkan sebelum kematiannya, korban sempat dirawat di rumah sakit setempat karena menderita sakit. Diduga kematian korban ini akibat penganiayaan yang dialaminya.

Menurut keluarga korban, Suminih (38), keluarganya mendapatkan kabar kematian anaknya tersebut dari salah satu teman korban yang bekerja di Arab Saudi. Informasi yang didapat sempat mengagetkan keluarganya. Pasalnya saat korban berangkat menjadi TKW tidak mempunyai riwayat sakit. Bahkan sebelumnya, anaknya itu sempat memberikan kabar jika selama bekerja selalu mendapatkan penyiksaan dari keluarga majikannya. Dan selama korban bekerja pernah mengirimkan uang hanya empat bulan yang dibayar majikannya.

"Selama dia bekerja di sana hanya empat bulan gaji yang dibayar oleh majikannya. Dan sisanya, selama 7 bulan belum dibayar hingga meninggalnya korban, " tegas Suminih.

Rencana keluarga korban akan menuntut pihak perusahaan sebagai penyalur tenaga kerja termasuk majikan korban. Serta akibat kematian anaknya akan melaporkan kepada disa terkait di Kab. Indramayu.

Sabtu, 02 Mei 2009

Keletihan, TKW Asal Indramayu Tewas di Kuwait

INDRAMAYU - Turinah (29) Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Desa Brondong, Blok Bondol RT 03/02 Indramayu, Jawa Barat, tewas di rumah majikannya di Kuwait. Turinah yang baru empat hari bekerja dirumah majikannya bernama Muhammad Abdul Nabi Ais Milad, harus mengalami musibah yang berujung kematian.

Korban terjatuh akibat keletihan yang mengakibatkan penyakit darah tingginya kambuh. Korban sempat menjalani perawatan disalah satu rumah sakit ternama di Kuwait. Namun, karena kondisi fisik korban terus memburuk, pihak keluarga meminta agar Turinah dibawa ke tanah air. Korban yang dalam kondisi lemah tiba di tanah air dan dirawat di RS Polri Jakarta. Namun, karena kondisinya kritis, korban menghembuskan nafas terakhirnya Kamis (30/4).

Keberangkatan Turinah ke Kuwait untuk menjadi TKW yang kedua kalinya pada 2 April 2009 lalu melalui agen keberangkatan PT Trisula Bintang Mandiri Graha Binhasan. Sebelumnya Turinah pernah menjadi TKW selama 4 tahun di Jordania. "Turinah mungkin tidak kuat dengan udara panas di luar negeri, sementara kondisi fisiknya juga tidak dalam keadaan fit," ungkap suami korban, Saja (37), Jumat (1/5/2009).

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Iwa Sungkawa menjelaskan, pihaknya telah mendapatkan laporan terkait kematian Turinah di Kuwait. Dinsosnaker berjanji akan meminta Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) yang memberangkatkan korban untuk membantu memberikan uang ganti rugi.

"Keluarga juga meminta majikan korban untuk membantu biaya kematian korban. Dinsosnaker saat ini tengah melakukan upaya untuk membantu korban," kata Iwa saat dikonfirmasi.

Jumlah kasus yang menimpa tenaga kerja Indonsia (TKI) asal Kabupaten Indramayu cukup tinggi. Pada 2008 lalu, tercatat sebanyak 25 kasus. Penyebabnya pun beragam, mulai dari kasus penganiayaan, pelecehan, hingga masalah gaji yang tidak dibayar.

Jumat, 27 Maret 2009

TKW Asal Indramayu Jadi Linglung

INDRAMAYU,- Perlakuan tidak manusiawi kembali dialami tenaga kerja wanita (TKW) asal Indramayu yang bekerja di Arab Saudi. Ratminih, TKW asal BloK Samak Rombeng Desa Margamulya, Kecamatan Bongas kini menderita lumpuh dan linglung. Kondisi itu diderita diduga akibat disiksa majikannya.

Ratminih kini tidak bisa tidur terlentang lantaran bagian belakang tubuhnya masih terdapat luka dan bekas jahitan. Bentuk dan ukuran kedua kakinya juga berbeda. Kaki kanan lebih kecil, akibat trauma luka dan juga dipenuhi bekas jahitan. "Sejak datang dari Arab Saudi, anak saya sulit diajak komunikasi. Satu-satunya cerita yang disampaikan yakni hanya soal penyiksaan dari majikannya," kata ibu kandung Ratminih, Sarminih, Kamis (12/3).

Selain cacat, Ratminih pulang tanpa membawa sepeser pun uang karena selama bekerja di luar negeri enam bulan tidak digaji majikannya. "Ratminih pernah menceritakan kalau setiap hasil pekerjaannya sebagai pembantu kurang memuaskan, langsung disiksa dan dianiaya," ujar Sarminih.
.
Pengawas TKI pada Dinas Sosial,Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Indramayu, Hendra Pondaga, mengaku telah mendengar kasus penyiksaan yang dialami Ratminih. Ia juga mengaku sudah melakukan upaya melalui Departemen Luar Negeri dan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi agar hak-hak Ratminih sebagai TKI bisa dikeluarkan.

"Selama bekerja tidak mendapat gaji sama sekali dan asuransinya belum keluar. Kami sedang mengupayakan lewat departemen dan perusahaan yang memberangkatkan Ratminih ke luar negeri," ungkap Hendra Pondaga. (A-96/A-147)***

Kamis, 26 Maret 2009

Dua TKW Diduga Jadi Korban Trafiking

INDRAMAYU,ARAHAN. Dua Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Indramayu, diduga menjadi korban jual-beli manusia (trafiking) di negara Timur Tengah. Kokom Komariyah Binti Tarman (20) warga Desa Tawangsari dan Anidah Binti Radijah (22) warga Desa Cidempet. Kedua warga Kec. Arahan Kab. Indramayu, sudah hampir enam tahun ini tidak diketahui keberadaanya alias raib.
Kedua TKW ini diberangkatkan sekitar september 2003 lalu. Berdasarkan informasi, mereka diberangkatkan menuju dua negara di Timur Tengah, masing-masing Kokom Komariyah ditempatkan di Kuwait sedangkan Anidah ditempatkan di Saudi Arabia.
Menurut keluarga kedua korban, pihak keluarga tidak menaruh curiga terkait keberangkatan anak mereka. Terlebih keberangkatannya melalui proses penampungan sebuah PJTKI Graha Indo Wiwana Jl. Condet Jakarta.
Menurut Tarman, ayah Kokom Komariyah yang kini tinggal di Desa Tawangsari RT 05 RW 01 Kec. Arahan. Anaknya berangkat menjadi TKW setelah sebelumnya ditampung PT. Graha Indo di wilayah Jatikarya Bogor.
“Waktu itu saya sudah merasa lega karena dapat informasi anak saya berangkat menuju Kuwait,” tutur dia.
Namun kebahagiaan keluarga berubah sejak jejak keberadaan Kokom tak diketahui. Baru pada tahun 2006, ia mendapatkan informasi bila anaknya berada di Kuwait dan mengeluhkan tindakan majikannya yang melarang berkomunikasi ke Indonesia. “Waktu itu anak saya mengeluh bila selama ini ia tidak menerima gaji dan diperlakukan tidak manusiawi oleh majikannya,” tutur Tarman.
Kasus yang sama juga dialami rekannya Anidah. Anidah selama menjadi TKW hampir tidak pernah memberikan kabar. Kondisi ini menyebabkan pihak keluarga sangat mengkawatirkan. Belakangan diperoleh informasi, bila selama bekerja di Saudi Arabia Anidah kerap dipindah-pindahkan dari majikan satu ke majikan lainnya. Kondisi ini menyebabkan jaminan upah berupa gaji bulanan pun nyaris “lenyap” sehingga selama menjadi TKW tak pernah kirim uang ke Indonesia.
Juru tulis Desa Cidempet Udin saat dikonfirasi “MD”, Minggu (22/3) mengakui bila pihaknya telah menerima laporan terkait dengan nasib warganya.
“Kami sudah menerima laporan terkait dengan nasib TKW tersebut, mamun kami bingung menelusuri keberadaan korban, mengingat pihak desa, menerima data yang sangat minim terkait perusahaan yang memberngkatkan maupun keberadaannya di negara tujuan,” tandas dia. (C-28)

Senin, 16 Maret 2009

1 Milyar Kiriman Uang TKI Tiap Hari

(Indramayu, BNP2TKI) Kepala Badan Pembangunan Daerah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Apriyanto mengakui, pemerintah daerah belum mampu bertindak secara profesional untuk mengelola potensi keberadaan TKI di wilayahnya. Padahal para TKI asal Indramayu itu setiap hari paling tidak mengirimkan ke keluarganya Ri 1 milyar atau rata-rata Rp 250 milyar per tahun.

“Apa yang kita lakukan untuk TKI ini masih belum terlambat. Kalau saja Pak Jumhur Hidayat datang 2-3 tahun lalu, mungkin kondisinya tidak separah ini. Anggap saja ini starting point untuk perbaikan-perbaikan terhadap pelayanan kepada para pahlawan devisa kita,” ujar Apriyanto.

Hal itu disampaikan Kepala Bappeda Kabupaten Indramayu saat menyambut kehadiran kunjungan Safari Ramadhan Ketua BNP2TKI Moh Jumhur Hidayat, di kantor Bupati Indramayu, Kamis (11/9).

Selain Kepala Bappeda yang hadir mewakili Bupati Indramayu, pejabat pemda yang ikut menyambut rombongan Safari Ramadhan “Menyapa TKI” BNP2TKI di hari ketiga itu, antara lain Kepala Dinas Sosial Ketenagakerjaan Iwa Sungkawa, Kepala Disnakertrans Iwan, dan Kepala Dinas Sosial dan Kependudukan Cecep Suryana.

Sedang dari BNP2TKI selain Kepala BNP2TKI Moh Jumhur Hidayat, juga hadir Rachyoel Sigar, Direktur Sosialisasi dan Kelembagaan, Kasubdit Pelayanan Kesehatan dr Elia Rosalina, MARS, MS, dan sekitar 40 anggota rombongan Safari Ramadhan “Menyapa TKI”.

Data resmi Disnakertrans Kabupaten Indramayu menunjukkan, bahwa dari 31 kecamatan yang ada, 90 persen TKI yang bekerja ke luar negeri tidak terdaftar di kantor Disnakertrans Indramayu.

Kepala BNP2TKI mengatakan bahwa jasa pahlawan devisa kepada bangsa ini begitu besar. Namun, pelayanan pemerintah baik pusat maupun daerah masih belum optimal dan harus ditingkatkan. Mengutip harapan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, Jumhur mengatakan bahwa pelayanan TKI itu tidak hanya harus bagus tapi harus sangat bagus.

Ditambahkannya, idealnya memang antara pusat dan daerah memiliki sistem informasi secara online antar instansi terkait agar bisa meminimalisir masalah, seperti pemalsuan dokumen baik Kartu Tanda Penduduk (KTP) maupun Kartu Keluarga (KK) yang marak terjadi di Indramayu.

TKI Skill

Kepala BNP2TKI Moh Jumhur Hidayat mengungkapkan, keinginan bekerja sebagai TKI formal bagi tenaga kerja wanita di Indramayu ternyata cukup tinggi. Meski rata-rata pendidikan mereka lulusan Sekolah Dasar, ternyata beberapa di antara mereka diterima bekerja di pabrik-pabrik di negeri Jiran, Malaysia.

“Kalau ada yang mau kerja di pabrik di Malaysia, saya akan carikan pekerjaan yang aman dan pendapatannya lebih baik daripada bekerja di rumah tangga,” ungkap Jumhur.

Namun ia mengharapkan para calon TKI atau mantan TKI asal Indramayu yang ingin bekerja di luar negeri, agar mengurus dokumen yang diperlukan di kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) di kabupten Indramayu secara resmi, tidak lagi melalui calo. (zul)

Berangkat Sehat Pulang Cacat

1-2klm-pop-news1

TAK habis-habis cerita tenaga kerja wanita (TKW) yang disiksa majikan. Namun meski kenyataan pahit ini kerap terjadi, tak mengurungkan niat mereka untuk mengais rezeki di negeri orang.
Kini cerita penyiksaan terhadap TKW juga terjadi. Suratminih (27 tahun), “pahlawan devisa” asal Kab. Indramayu mendapat perlakuan tidak manusiawi dari majikannya di luar negeri. Gadis warga Blok Samak Rombeng Desa Margamulya Kec. Bongas ini mengalami kelumpuhan dan depresi sangat berat akibat disiksa majikannya di Arab Saudi.
Ditemui “MD” di rumahnya Rabu (11/3), Ratminih sedang tertidur lelap ditemani ibu dan kakak lelakinya, Sarminih (66 tahun) dan Asral (46 tahun). Ia tidak bisa tidur terlentang lantaran bagian belakang tubuhnya masih terdapat luka dan bekas jahitan. Ukuran kedua kakinya berbeda, dengan kaki kanan lebih kecil, akibat trauma luka dan juga dipenuhi bekas jahitan. “Sejak datang dari Arab Saudi, anak saya sulit diajak komunikasi. Satu-satunya cerita yang disampaikan yakni hanya soal penyiksaan dari majikannya,” ujar Sarminih.
Kisah memilukan yang dialami Ratminih kembali diceritakan Sarminih, ibunya. Pada pertengahan tahun 2008 lalu, anak gadisnya itu berangkat menjadi TKW ke Arab Saudi melalui PT. Putri Mandiri yang berkedudukan di Jakarta. Namun selama bekerja di luar negeri, tak satupun anggota keluarga yang mengetahui nama majikan dan kota tempat tinggal Ratminih di Arab Saudi. Usaha untuk mencari tahu keberadaan Ratminih terus dilakukan keluarga, baik lewat sponsor maupun perusahaannya.
Sampai enam bulan kemudian pihak keluarga memperoleh kabar keberadaan Ratminih di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta. Sarminih dan anaknya yang lain, Asral pun terkejut mendengar kabar dari perusahaan yang memberangkatkan Ratminih itu. Mereka bergegas ke Jakarta untuk mengetahui keadaan Ratminih. Mereka shock karena keadaan Ratminih sangat mengenaskan.
Selain cacat, Ratminih pulang tanpa membawa sepeserpun uang karena selama bekerja di luar negeri enam bulan tidak digaji majikannya. “Di sana anak saya sudah berubah. Waktu berangkat sehat dan segar, begitu di rumah sakit sudah banyak luka dan bekas jahitan serta lumpuh. Yang membuat lebih sedih, Ratminih malah depresi berat,” tutur Sarminih.
Saat diperiksa dokter, lanjut Sarminih, sekujur tubuh Ratminih banyak luka. Beberapa bagian di antaranya terdapat jahitan. Seperti di bagian belakang tubuh terdapat jahitan dari punggung hingga ke ujung pantat, lengan, kaki kanan dll. Kepada ibunya, Ratminih pernah bercerita bahwa seluruh luka yang ada ditubuhnya itu akibat penyiksaan yang dilakukan majikannya.
“Ratminih pernah menceritakan kalau setiap hasil pekerjaannya sebagai pembantu kurang memuaskan, langsung disiksa dan dianiaya,” terang Sarminih.
Pengawas TKI pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Indramayu, Hendra Pondaga, ketika dikonfirmasi membenarkan perihal penyiksaan yang dialami Ratminih. Pihaknya, kata dia, sudah melakukan upaya melalui Departemen Luar Negeri dan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi agar hak-hak Ratminih sebagai TKI bisa dikeluarkan.
“Selama bekerja tidak mendapat gaji sama sekali dan asuransinya belum keluar. Kami sedang mengupayakan lewat departemen dan perusahaan yang memberangkatkan Ratminih ke luar negeri,” tegas Hendra.

Kamis, 12 Maret 2009

Balada TKI Indramayu (Suami Penunggu Kiriman Istri)

Wajah Suta bin Darim (42) terlihat suram. Bicaranya pelan saat menerima tamu yang tiba-tiba berkunjung. Dia kebanyakan menunduk menatapi tanah liat keras menghitam yang menjadi lantai rumahnya. Beberapa kali dia menggosok-gosok balai bambu yang dia duduki. Balai bambu itu perabot satu-satunya di ruang tamu berukuran enam meter persegi itu. Sesekali Suta membereskan sarung yang dipakainya dan dengan kaku menatap tamunya.

Raut wajah buruh nelayan Desa Dadap, Kecamatan Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat itu terus menunjukkan kesusahan. Sore itu, ayah tiga anak ini cukup terkejut dikunjungi dua kawannya, aktivis buruh migran Indramayu yang selama ini mendampingi dia mencari istrinya yang sudah 12 tahun hilang. Namun, Suta belum mendapat kabar gembira dari dua kawannya itu.

Hidup Suta tak menentu. Perasaan rindu ke istrinya, Darsi (37) sudah tak terbendung. Istrinya meninggalkan dia dan tiga anaknya mengadu nasib ke Timur Tengah men-jadi tenaga kerja Indonesia (TKI). Tak jelas negara mana yang dituju dan tak jelas kerja sebagai apa istrinya di sana. Sepeninggal Darsi, dia sendirian menghidupi dan membesarkan tiga anaknya yang masih kecil, Karniti (8), Daniri (5), dan Tayo (2). Penghasilannya sebagai buruh nelayan tak menentu. Walaupun masih ada yang bisa dia bawa untuk makan dan uang sekolah anak-anaknya.

Beruntung dia dan anak-anaknya masih bisa menumpang tinggal di rumah orangtua Suta yang juga nelayan. Sementara istrinya yang diharapkan bisa ikut menopang kebutuhan keluarga, tak ada kabar. Kabar terakhir, 12 tahun lalu, dia hanya menerima sebuah surat dari Siti Komil, rekan istrinya sesama TKI, bahwa Darsi sudah bekerja di Riyadh. Setelah itu, tak ada lagi kabar. Jangankan kiriman uang bulanan, surat pun tidak ada. Suta juga kehilangan kontak dengan Siti Komil.
Suta bin Darim memperlihatkan foto anaknya yang menjadi tenaga kerja di Arab Saudi. Suta, yang tinggal di Kampung Dadap, Indramayu, terpaksa mengasuh tiga anaknya seorang diri, karena istrinya juga bekerja di Arab Saudi, dan sudah 11 tahun tidak diketahui kabarnya. Suta terpaksa mengirim istri dan anaknya menjadi buruh migran karena terimpit kemiskinan.

Belakangan, hidupnya makin susah. Tidak ada lagi dana untuk biaya sekolah anak-anaknya. Hasil dari melaut pun tidak bisa lagi membuat dapur berasap. Ikan di perairan Indramayu menghilang. Air laut tercemar. Nelayan menduga kuat, ikan kabur dari bibir pantai akibat tak tahan dengan limbah dari pengolahan BBM Pertamina di Balongan, tak jauh dari Desa Dadap. Sementara nelayan tradisional seperti Suta, tak mampu mengejar ikan hingga ke tengah laut dengan perahu kecilnya. “Sekitar lima tahun ini hasil tangkapan berkurang drastis,” ujar Suta yang ditemui SP, akhir pekan lalu.

Dia tak sanggup lagi mengurus anak-anaknya. Makanya ketika ada tawaran beberapa sponsor (sebutan calo pencari TKI, Red), tanpa pikir panjang Suta merelakan putri sulungnya, Karniti yang sudah berusia 16 tahun berangkat ke Yordania. Karniti mengikuti jejak ibunya menjadi TKI. Empat tahun bekerja di Yordania, Karniti hanya digaji dua tahun. Suta bersyukur, putri sulungnya itu mengirim gajinya ke Tanah Air. Dia bisa membangun rumah sederhana, meskipun tak berplester dan tanpa ubin. Dua tahun terakhir, Karniti tertimpa masalah di Yordania. Dia dipulangkan ke Indramayu tanpa membawa uang. Gajinya dua tahun terakhir tak dibayar. “Meskipun tak bawa uang, saya bersyukur dia pulang selamat. Saya tidak mau kehilangan lagi,” ujar Suta.

Sepulangnya Karniti, kehidupan di Desa Dadap tetap tak membaik. Tak sampai setengah tahun, Karniti terpaksa kembali menerima tawaran sponsor untuk diberangkatkan ke Timur Tengah. Sudah dua bulan ini Karniti berada di Kuwait.

Sementara Suta sering tidak melaut. Apalagi setelah kenaikan BBM, biaya operasional perahunya membengkak. Setiap melaut, dia dan delapan rekannya harus menyiapkan uang minimal Rp 200.000. Uang itu untuk membeli solar dan perbekalan selama di laut.

Pernah beberapa kali mereka paksakan melaut, namun hasilnya memilukan. Suta dan kawan-kawannya hanya bisa membawa pulang uang Rp 5.000 per orang. Jelas belum balik modal. Selama ini, saat belum ada kiriman uang dari putrinya, dia menumpuk utang di warung.

Kini Suta menunggu tawaran berikutnya untuk putrinya kedua, Daniri yang baru lulus SMP. Dia rela ditinggal bersama putra bungsunya, Tayo di Desa Dadap. Beberapa tetangga menyebutkan, Daniri sudah terjerat seorang sponsor. Dalam waktu dekat gadis ayu itu akan diberangkatkan ke Timur Tengah, mengikuti jejak kakak dan ibunya. Paspor dan segala dokumen sudah disiapkan. Konon, dokumen-dokumen itu menggunakan identitas palsu. Suta enggan berkomentar soal keberangkatan putri keduanya itu. Sikap yang sama juga ditampilkan Daniri.

Selasa, 10 Maret 2009

Uang TKI lebih besar dari PAD

INDRAMAYU, Jumlah uang kiriman (remiten) dari TKI yang bekerja di luar negeri asal Indramayu setahun mencapai Rp250 miliar, lebih besar dari pendapatan asli daerah (PAD) kabupaten itu yang Rp60 miliar. "Jasa TKI jelas sangat besar," kata Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Disosnaker) Kabupaten Indramayu Iwa Sungkawa dalam silaturahmi bersama Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Moh Jumhur Hidayat dan bekas TKI serta calon TKI di Indramayu, Kamis.

Namun status TKI asal Indramayu lebih banyak yang ilegal atau tidak terdaftar di Disosnaker, katanya. Ia menyebutkan, jumlah TKI yang terdaftar hingga Juli 2008 sebanyak 4.289 wanita dan 76 laki-laki. Hanya 10 persen di antara mereka bekerja di sektor formal dan 90 persen di sektor informal atau pembantu rumah tangga di berbagai negara kawasan Timur Tengah dan Asia Pasifik.

Padahal ada satu kecamatan yang memiliki TKI hingga 5.000 orang dan di Indramayu terdapat 31 kecamatan sehingga bila rata-rata jumlah TKI di satu kecamatan terdapat 3.000 orang maka diperkirakan jumlah seluruh TKI asal Indramayu terdapat sekitar 90 ribu orang. Kondisi TKI ilegal yang lebih banyak membuat pengawasan dan perlindungan terhadap mereka menjadi kurang diperhatikan.

Sementara itu Kepala Bappeda Indramayu Apriyanto berharap TKI berangkat ke luar negeri dengan dokumen resmi.
Ia mengakui banyaknya TKI ilegal merupakan indikasi bahwa pengelolaan TKI belum mampu dijalankan secara profesional. Sedangkan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Cecep Suryana mengatakan sebenarnya tidak ada alasan bagi para calon TKI untuk mengurus dokumen resmi karena untuk mengurus KTP dan akte kelahiran dapat dilayani secara gratis. "Tidak ada pungutan," katanya.

Cecep mengingatkan bahwa berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan calon TKI harus mengurus surat keterangan pindah ke luar negeri dan surat keterangan itu dikeluarkan secara gratis. Sementara itu Jumhur mengatakan Safari Ramadhan yang ia lakukan di Jawa 9-19 September 2008 adalah untuk mengetahui secara langsung persoalan TKI di basis-basis TKI yang ia datangi.

Ia mengakui bahwa pemerintah belum optimal dalam mengurus masalah TKI. Oleh karena itu dengan pembentukan BNP2TKI yang hanya mengurusi TKI, persoalan yang terjadi menyangkut penempatan dan perlindungan TKI dapat dilakukan dengan sangat baik. Ia menyatakan bahwa jasa TKI sangat besar dalam membantu mengatasi pengangguran dan kemiskinan.

Jumhur menyebutkan jumlah TKI sebanyak enam juta orang dan memberi manfaat langsung paling tidak kepada 30 juta orang anggota keluarganya serta memberi dampak ikutan pada kehidupan ekonomi masyarakat. Jumlah kiriman uang dari TKI secara nasional, katanya, mencapai Rp100 triliun per tahun dan merupakan terbesar kedua setelah devisa dari sektor minyak dan gas.

Uang TKI Indramayu Fantastis

Kiriman Lebaran Capai Rp40 M, Terbesar di Indonesia INDRAMAYU - Penghasilan yang didapat TKI (tenaga kerja Indonesia) asal Kabupaten Indramayu sangat spektakuler, bahkan yang tertinggi se-Indonesia. Data yang diperoleh Radar dari Kantor Pos Indramayu, dalam sebulan rata-rata jumlah pengiriman uang dari TKI di luar negeri ke Indramayu melalui Western Union (WU) mencapai 7.000 transaksi senilai Rp20 miliar. Dengan demikian, dalam satu tahun mencapai Rp240 miliar. Bahkan jumlah itu dipastikan lebih besar karena menjelang Lebaran, transaksi WU naik dua kali lipat atau mencapai Rp40 miliar untuk September 2008. Belum lagi mereka yang mengirimkan uang melalui fasilitas lain seperti cek dan lainnya. “Memang pengiriman uang dari TKI di luar negeri ke Indramayu merupakan yang tertinggi se-Indonesia. Dalam setahun ditaksir mencapai sekitar Rp300 miliar, baik yang kirim melalui WU maupun melalui cara lain,” kata Kepala Kantor Pos Indramayu, Erus Rustia melalui Aris Ristiadi, Selasa (23/9). Jika dibandingkan dengan jumlah pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Indramayu tahun 2008 (sebelum perubahan) yaitu Rp61,3 miliar, berarti jumlah penghasilan TKI empat kali lipat dari PAD. Sementara menjelang Lebaran, transaksi uang melalui WU dari TKI di luar negeri ke Kabupaten Indramayu dipastikan mengalami kenaikan 100 persen atau dua kali lipat, sebagaimana diakui Aris Ristiadi. Tingginya penghasilan TKI Indramayu juga bisa dilihat secara langsung di beberapa desa di Kabupaten Indramayu yang selama ini menjadi kantong TKI. Di desa-desa tersebut akan dijumpai sejumlah rumah mewah yang baru dibangun, dari hasil keringat para TKI. Seperti yang terlihat di Desa Juntikebon RT 001 RW 07, Kecamatan Juntinyuat. Di tempat itu, sebuah rumah mewah berlantai dua menjulang di sudut desa. Ketika Radar mencoba mendatangi rumah itu, ternyata memang dibangun dari hasil kerja TKI di luar negeri. “Rumah ini dibangun dari uang kiriman anak saya Titi yang bekerja di Korea sudah dua tahun,” ungkap Wastirih (55), ibu dari Titi yang menjadi TKW di Korea Selatan. Dikatakan Wastirih, anaknya Titi berangkat ke Korea dua tahun lalu menyusul suami Titi, Agus Juendi, yang sudah terlebih dahulu berangkat. Berapa uang yang diterima Wastirih dalam sebulan? Menurutnya, kalau yang mengirim dua orang secara bersamaan jumlahnya bisa mencapai Rp15 juta/bulan. Sementara kalau hanya seorang yang kirim biasanya hanya Rp9 juta/bulan. Menjelang Lebaran tahun ini, Wastirih mengaku tidak mendapatkan kiriman uang karena sudah mengirim bulan kemarin. “Untuk menghadapi Lebaran masih ada uang sisa kiriman bulan lalu, lumayan untuk membeli baju cucu,” ungkapnya. Sementara Dulwakid (45), warga Desa Pringgacala, Kecamatan Karangampel yang anaknya bekerja sebagai TKW di Singapura juga merasa gembira menghadapi Lebaran tahun ini. Pasalnya, anaknya yang bernama Eni baru saja mengirimkan uang melalui WU dan telah diambil di Kantor Pos. Dulwakid mengakui, dari hasil kerja anaknya di luar negeri juga telah mampu membangun rumah hingga lebih baik dari sebelumnya. Sementara itu, data TKI asal Kabupaten Indramayu yang bekerja di luar negeri dari Dinas Sosial dan Tenaga Kerja, hingga akhir Desember 2007 mencapai 8.228 orang. Sedangkan untuk tahun 2008, hingga bulan Agustus mencapai 4.679 orang. Untuk negara tujuan TKI sebagian besar di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, dan lainnya. Juga sejumlah negara di Asia seperti Korea, Singapura, Malaysia, Jepang, Taiwan Hongkong, dan lain-lain. Kasubdin Penta Kerja dan Perluasan Kerja Dinsosnaker Indramayu, Drs Iwan Hermawan MPd mengatakan, potensi TKI Indramayu dalam mendatangkan devisa sangatlah besar. Bahkan mampu mengangkat taraf hidup mereka. Namun, yang menjadi persoalan, tuturnya, selama ini devisa yang masuk ke Indramayu dari para TKI belum bisa diberdayakan untuk hal-hal yang produktif. Akibatnya kiriman uang yang masuk ke Indramayu cenderung dipergunakan untuk hal-hal yang konsumtif. Selain untuk membangun rumah dan membeli kendaraan, sisanya biasanya dipergunakan untuk belanja. Padahal, kalau dana dari TKI ini bisa diberdayakan, maka diharapkan akan mampu mengatasi berbagai macam persoalan seperti pengangguran dan kemiskinan. Sementara itu, Dinsosnaker belum bisa berbuat banyak akibat alokasi anggaran yang minim atau jauh dari memadai.

TKI Nolak Dipulangkan oleh PPTKIS

Jakarta, BNP2TKI Keputusan Menteri Tenaga Kerja Erman Suparno yang menyerahkan urusan pemulangan TKI kepada Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) mencemaskan para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang baru pulang dari mencari nafkah di manca Negara.

Para pahlawan devisa yang umumnya masuk dalam kelompok TKI Bermasalah khawatir perusahaan yang memberangkatkan mereka akan menuntut biaya hutang, yang jika ditotal bisa mencapai 7-15 jutaan.

Biasanya perusahaan akan meminta TKI Bermasalah ini untuk membayar hutang. Bila mereka menolak, pihak perusahaan akan menuntut mereka untuk dikirim kembali ke negara di mana mereka bisa dipekerjakan.

“Boro-boro saya bayar Rp 3,5 juta, pak. Uang dari mana, saya saja pulang karena sakit baru 3 bulan kerja sebagai pembantu rumah tanggia di Taiwan, “ujar Mariana Uledhy saat ditemui di Terminal IV Selapajang, Minggu sore (8/2).

Selain Mariana, terdapat juga 4 (empat) TKI lain yang punya pandangan sama, yaitu Arinih, Cucun Zunairah, Een Binti Sarmad, dan Wiji Suyanti.

“Kita inginnya segera diantar pulang ke rumah, kita nggak mau diantar oleh perusahaan yang memberangkatkan kita,” ujar Ariani, TKI asal Indramayu yang pernah 4 tahun bekerja sebagai perawat orang jompo di Taiwan.

Cucun, Een, dan Wiji Suyanti TKI yang ditemui di tempat terpisah pun cemas bila harus dipulangkan dulu ke perusahan.

“Kami banyak mendengar dari kawan-kawan, perusahaan banyak yang meminta uang dari TKI dengan alasan hutang. Kalaupun ada ganti rugi dari asuransi, biasanya TKI tidak menerima penuh,” ujar Wiji, TKI asal Hongkong.

Kepada BNP2TKI.go.id, para pahlawan devisa ini berpendapat, seharusnya pemerintah membantu kemudahan TKI agar bisa pulang dengan cepat, aman dan nyaman. Bukan malah mempersulit TKI.

Keluarnya Permen No. 22/MEN/XII/2008 yang memangkas kewenangan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) memang salah satu isinya memberikan kewenangan pemulangan TKI dikelola oleh PPTKIS. Padahal menurut UU No. 39/2004 hal itu menjadi kewajiban pemerintah, BNP2TKI untuk menjamin kepulangan TKI sampai kampung halaman. (zul)

Nurjanah, TKI Indramayu: Menaker Jangan Buat Bingung Kami

Jakarta. BNP2TKI (9/2) Sejumlah TKI yang mengikuti aksi ribuan anggota Aliansi Peduli Tenaga Kerja Indonesia (APTKI) mengajukan Uji Materiil terhadap Permenakertrans No. 22/MEN/XII/2008 ke Mahkamah Agung (MA) mengaku sengaja mengikuti aksi karena sesuai dengan aspirasi mereka.

Para TKK yang bergabung bersama ribuan masa yang terdiri dari para TKI yang datang dari berbagai daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat itu mendukung perjuangan Aliansi Peduli Tenaga Kerja Indonesia (APTKI) yang terdiri dari Paguyuban Keluarga Buruh Migran Indonesia (Pakubumi), Cirebon, Jabar. Paguyuban Peduli Migran Indonesia (PPBMI), Cilacap, Jateng. Seruan Untuk Indonesia (Seruni), Banyumas, Jateng. Paguyuban Peduli Migran Indonesia (PPBMI), Kuningan, Jabar. Paguyuban Wanita Buruh Migran Indonesia (PPBMI), Kuningan, Jabar. Paguyuban Sumbang Rasa keluarga Buruh Migran Indonesia (Paseban). Jaringan Paguyuban Peduli Migran, Mekarwangi, Cirebon, Jabar. Lembaga Studi Hukum (LSI), Garut, Jabar. GASBIIDO, PP GPI, APGKI, SB MIGRAN, TIPIKOR, Yayasan Darul Ikhsan, GASBUMI, PPM, APKLI, AP3TKI, SBSI 92, SBMSK, TENAR, HUMANIKA, REPDEM, GASPERMINDO, KB. PMII dan KOSBI.

Nurjanah, TKI asal Indramayu, Jawa Barat, menginginkan aturan TKI berjalan seperti bisasa. “Saya dan beberapa teman-teman TKI sudah datang jauh-jauh untuk memperjuangankan nasib kami. Saya ingin pemerintah tanggap dengan aspirasi para TKI. Pokoknya Menaker jangan membuat bingung kami dengan mengeluarkan Permen 22 ini. Para TKI ingin Permen itu dihilangkan,” katanya.

Sementara itu, seoarang peserta unjuk rasa yang tergabung dari Paguyuban Peduli Migran Indonesia (PPBMI), Kuningan, Jabar, mengaku adanya Permenakertras itu juga menyulitkan TKI yang bekerja di luar negeri.

bnp2tki.go.id

“Kami ingin Permenakertras No. 22/MEN/XII/2008 cepat dicabut karena sudah merugikan. Para TKI menjadi bingung dengan adanya Permen tersebut. Kami harap dengan adanya uji materil ini bisa berhasil. Sehingga hak kami bisa diraih kembali,” ujar Mujiono. (hp)